Pascasarjana Program Doktor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui penyelenggaraan Workshop Kurikulum Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan 9 maret 2026. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam merespons dinamika perkembangan pendidikan global, tuntutan akreditasi, serta kebutuhan masyarakat terhadap lulusan doktor yang unggul, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Workshop kurikulum ini dilaksanakan sebagai bagian dari siklus penjaminan mutu internal yang berorientasi pada continuous improvement dalam pengembangan akademik. Fokus utama kegiatan ini adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum yang telah berjalan, sekaligus merumuskan desain kurikulum baru yang berbasis pada capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes) tingkat doktor. Dengan demikian, kurikulum yang dihasilkan diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag, yang dikenal luas sebagai pakar dalam bidang pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia. Dalam sesi pemaparannya, beliau menekankan bahwa pengembangan kurikulum pada jenjang doktor harus mengacu pada pendekatan Outcome-Based Education (OBE) yang menitikberatkan pada hasil akhir pembelajaran, yaitu kompetensi lulusan yang terukur, relevan, dan berdaya guna.
Menurut beliau, kurikulum Program Doktor PAI harus mampu mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu penguatan kapasitas riset (research capacity), publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta kontribusi keilmuan yang berdampak bagi masyarakat. “Mahasiswa doktor tidak cukup hanya memahami teori, tetapi harus mampu menghasilkan temuan ilmiah baru yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Abdul Rohman juga menyoroti pentingnya pendekatan interdisipliner dalam pengembangan kurikulum. Hal ini dinilai penting mengingat kompleksitas persoalan pendidikan Islam di era modern yang tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Oleh karena itu, kurikulum perlu dirancang secara fleksibel dan adaptif dengan mengakomodasi berbagai perspektif keilmuan, termasuk teknologi pendidikan, sosiologi, psikologi, serta studi keislaman kontemporer.
Kegiatan workshop ini diikuti oleh berbagai unsur akademik di lingkungan Pascasarjana Program Doktor, mulai dari pimpinan, pengelola program studi, dosen tetap, hingga tenaga kependidikan. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam mengikuti setiap sesi kegiatan, baik pada saat pemaparan materi maupun dalam diskusi kelompok.
Selain sesi pleno, workshop ini juga dilengkapi dengan kegiatan focus group discussion (FGD) yang terbagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Setiap kelompok membahas komponen penting dalam kurikulum, seperti perumusan profil lulusan doktor, penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), pemetaan bahan kajian, struktur mata kuliah, hingga pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis riset.
Dalam diskusi tersebut, berbagai masukan konstruktif muncul dari peserta, terutama terkait kebutuhan untuk memperkuat mata kuliah metodologi penelitian lanjutan, penulisan artikel ilmiah bereputasi internasional, serta pengembangan keilmuan berbasis integrasi keislaman dan keilmuan modern. Peserta juga menekankan pentingnya kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas lulusan doktor.
Direktur Pascasarjana dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini merupakan momentum penting dalam melakukan rekonstruksi kurikulum secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa kurikulum Program Doktor PAI harus mampu menjawab tantangan zaman, termasuk era globalisasi, revolusi industri 4.0, dan masyarakat 5.0.
“Pengembangan kurikulum ini harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Kita tidak hanya berbicara tentang dokumen kurikulum, tetapi tentang masa depan lulusan kita. Oleh karena itu, kurikulum harus dirancang secara visioner, integratif, dan berbasis kebutuhan nyata,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau juga menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam implementasi kurikulum doktor. Ketiga aspek tersebut harus terintegrasi secara utuh agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kontribusi nyata bagi umat.
Di akhir kegiatan, workshop menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan menjadi dasar dalam penyusunan dokumen kurikulum baru. Beberapa rekomendasi tersebut antara lain: penguatan orientasi riset dalam setiap mata kuliah, peningkatan kualitas publikasi ilmiah mahasiswa, integrasi nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal.
Selain itu, disepakati pula perlunya benchmarking dengan perguruan tinggi lain yang telah memiliki Program Doktor PAI unggul, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kurikulum yang dikembangkan memiliki daya saing global dan sesuai dengan standar internasional.
Hasil dari workshop ini selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh tim pengembang kurikulum untuk disusun dalam bentuk dokumen resmi yang siap diimplementasikan pada tahun akademik mendatang. Proses ini juga akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk alumni, pengguna lulusan, serta pakar pendidikan, guna memastikan relevansi dan kualitas kurikulum yang dihasilkan.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, Pascasarjana Program Doktor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan berharap dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam yang unggul, inovatif, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan Islam di tingkat nasional maupun global. Dengan kurikulum yang kuat dan relevan, diharapkan lulusan doktor PAI mampu menjadi pemimpin akademik, peneliti, dan agen perubahan yang membawa kemajuan bagi dunia pendidikan Islam di masa depan.