Penulis : Nur Jannah Daulay (2350500010)
Etnomatematika merupakan salah satu wujud pembelajaran berbasis budaya dalam konteks matematika. Etnomatematika dianalogikan sebagai lensa untuk memandang dan memahami matematika sebagai suatu hasil budaya atau produk budaya. Etnomatematika marupakan suatu pengetahuan yang berkaitan dengan budaya yang menerapkan konsep-konsep matematika.
Matematika sudah sering dianggap pelajaran yang sulit dan rumit oleh peserta didik. mengapa demikian? karena, cara guru menyampaikan materi matematika itu tidak membangun minat siswa untuk mempelajarinya malah membuat siswa menjadi bosan dan jenuh. penyebabnya dikarenakan guru mengajar monoton dengan situasi dan kondisi yang sama dan cara belajar yang sama setiap kali pembelajaran matematika di pelajari.
Mengajarkan ilmu kepada siswa agar mereka memahami ilmu tersebut harus ada minat untuk mempelajarinya. Karena ketika siswa sudah minat akan hal tersebut maka itu akan menjadi hal ynag menarik baginya untuk di pelajari lebih lanjut. Kalau tidak ada minat mereka dalam hal itu maka bagaimana pun caranya mereka tidak akan tertarik sama sekali akan hal itu.
Cara agar mereka meminati pembelajaran matematika salah satunya harus dirubah cara penyampaian materinya. Jika guru selama ini selalu lebih aktif dibanding siswanya maka pembelajaran itu akan membosankan bagi siswa. Tetapi apabila siswa lebih aktif dalam pembelajaran yang sedang berlangsung maka suasana pembelajaran itu akan lebih hidup dan lebih menarik. Guru hanya sebagai fasilitator untuk kelengkapan dan menyempurnakan kekurangan pembelajaran.
Suasana yang berbeda akan membuat siswa antusias untuk mencoba memahami apa yang akan disampaikan. Karena siswa akan lebih minat ketika ada sesuatu yang berbeda. Rasa penasaran dan ingin tahu mereka akan hal yang berbeda itu akan membuat pembelajaran tersebut semakin menarik bagi mereka. Pembelajaran yang dilakukan dengan lingkungan secara langsung akan membuat siswa masuk dalam suasana pembelajaran tersebut.
Etnomatematika bisa menjembatani pembelajaran matematika dengan budaya lingkungan sekitar. Karena banyak budaya yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran untuk matematika agar siswa memahami ilmu dari matematika dengan memperkenalkan budaya sekitar. Misalnya pembelajaran matematika menggunakan media permainan tradisional congklak. Bisa mengaplikasikan konsep ilmu penjumalahan pada beberapa lubang congklak, pengurangan ketika congklak dimainkan karena buah congklak yang dimasukkan kedalam lubang tersebut akan mengurangi jumlah buah congklak yang ada ditangan si pemain. Kemudian dalam perkalian guru memberikan 49 buah congklak kepada siswa maka siswa akan mengisi lubang tersebut dengan buah congklak itu dengan jumlah yang sama perlubangnya. Begitu juga dengan pembagian guru memberikan 49 buah congklak dan siswa mengisi lubang rumah dengan jumlah yang sama maka 49 dibagi jumlah lubang rumah.
Dengan mengaitkan dan membuat siswa berinteraksi secara langsung dengan permainan yang mereka sukai dan minati akan lebih mudah mengajarkan konsep dari pembelajaran matematika. Mereka tidak hanya sebatas menghafal tetapi benar-benar memahaminya karena mereka meminati apa yang dipelajari.
Banyak budaya sekitar yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran matematika untuk menigkatkan minat belajar siswa. Bisa berupa permainan tradisional, alat musik budaya, pakaian budaya sesuai kebutuhan dan tingkat pemahaman yang diperlukan oleh siswa. Maka untuk membuat matematika menjadi pembelajaran yang disukai oleh siswa maka terlebih dulu tingkatkan minat mereka untuk mempelajari ilmu tersebut. Karena ketika mereka sudah meminatinya dengan sendirinya mereka akan berusaha dan antusias untuk mengerti dan memahaminya.